“Mokusatsu”. Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata ini? Kue jepang atau upacara tertentu? Bukan, kata “mokusatsu” mempunyai dua arti, yang pertama adalah “belum dapat berkomentar” dan yang kedua adalah “menolak”
Kata “mokusatsu” ini adalah salah satu penyebab serangan bom atom di Nagaski dan Hiroshima pada akhir perang dunia II. Setelah kekalahan Jerman di Eropa, pemerintah Amerika Serikat, kerajaan Inggris dan Republik China mengirimkan pesan agar Jepang menyerah. 27 Juli 1945 kabinet Jepang mengeluarkan pernyataan “Mokusatsu” atas permintaan sekutu. “Mokusatsu” disini berarti “belum dapat berkomentar”. Situasi dalam pemerintahan Jepang sendiri pada waktu itu kebanyakan politikus ingin mengakhiri peperangan ini. Namun, pihak militer tidak menginginkan penyerahan tersebut dan beriskukuh untuk melanjutkan perang. Dan ironisnya, pihak militer inilah yang paling kuat suaranya di pemerintahan.
Masalah muncul ketika pihak sekutu mengartikan kata “mokusatsu” tersebut sebagai penolakkan. Pada tanggal 6 Agustus 1945, Presiden Truman mengumumkan bahwa pemerintah Jepang menolak tuntutan sekutu untuk menyerah dan memerintahkan pemboman dengan bomb atom atas Hiroshima. Keinginan untuk menggunakan bomb atom sangat kuat. Salah satu alasannya adalah pemerintah Amerika Serikat ingin menunjukkan kepada rakyatnya apa hasil dari pajak yang selama ini mereka bayar. Apalagi belum lama berselang USS Indianapolis yang pernah membawa bomb atom dikaramkan.
Ironis sekali, misintepretasi sebuah kata menjadi bencana dahsyat. Benar – benar sangat disayangkan ketika itu tidak dilakukan konfirmasi balik. Andaikan waktu itu diadakan konfirmasi balik, tragedi Hiroshima dan nagasaki belum tentu terjadi.