Pada tanggal 7 Desember 1941 (versi Amerika Serikat) atau 8 Desember 1941 (versi Jepang) ada sebuah kejadian luar biasa yang mana akan mengubah wajah peperangan di Eropa dan Asia Timur. Penyerangan Jepang terhadap pusat pangkalan laut Amerika Serikat di Pasifik akan menyeret Amerika Serikat ke Perang Dunia II dan keberpihakannya di pihak Sekutu. Perlu diketahui bahwa Perang Asia Timur dimulai tahun 1937 ketika Jepang menyerbu China. Perang Eropa sendiri terjadi tahun 1939 ketika Jerman menyerang Polandia. Dan sebelum tahun 1941, Amerika berusaha untuk bersikap netral.
Jepang memang berencana menguasai sumber daya yang ada di Asia Tenggara. Akan tetapi, kehadiran armada Amerika di Pasifik sendiri menjadi semacam duri dalam daging akan rencana Jepang tersebut. Satu – satunya cara adalah menyingkirkan kekuatan Amerika tersebut. Selain itu, Laksamana Yamamoto juga bermain untung – untungan. Laksamana Yamamoto beranggapan jika armada Amerika dapat dihancurkan maka ada kemungkinan Amerika akan meminta damai. Tetapi sejarah akan membuktikan bahwa perkiraan beliau salah.
Pada saat hari-H, tanpa diketahui dunia, armada besar Jepang secara diam – diam mendekati Pearl Harbor dan melakukan serangan mendadak di pagi hari. Pihak Jepang sendiri sesungguhnya tidak berencana melakukan serangan mendadak. Sebenarnya ada sebuah pesan pernyataan perang yang dikirimkan ke Amerika. Surat itu diharapkan dibaca oleh pihak Amerika Serikat sesaat sebelum terjadinya penyerbuan. Jadi, dalam rencana Laksamana Yamamoto, Jepang sudah memberikan peringatan kepada Amerika tetapi waktunya dibuat sesingkat mungkin dengan serangan Jepang sehingga Amerika walaupun sudah dapat peringatan tetapi tetap tidak mungkin untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan. Hal ini bertujuan untuk membuat Jepang terlihat bersih karena sudah memberikan peringatan selain itu juga agar Jepang tidak mendapat perlawanan berarti karena Amerika sendiri tidak siap.
Ternyata, dalam implementasinya sendiri, pesan itu tidak sampai tepat pada waktunya karena faktor komunikasi. Amerika tidak pernah mendapat peringatan apapun akan serangan itu, yang pada akhirnya menyebabkan Amerika beranggapan bahwa Jepang menyerang secara mendadak.
Di pihak Amerika, ada kesalahan konyol yang dibuat oleh prajuritnya. Amerika memang sudah mewanti – wanti adanya serangan Jepang ke Pearl Harbor dan sudah memasang radar. Ketika hari-H, radar Amerika sendiri sudah menangkap adanya gerombolan besar yang terbang menuju Hawaii. Tetapi para prajurit yang menjaga radar malah menganggap itu adalah segerombolan burung atau entah apalah!!!
Setelah serangan, Jepang menenggelamkan banyak kapal – kapal Amerika. Tetapi tujuan utama Laksamana Yamamoto sendiri tidak tercapai. Tidak ada kapal induk Amerika yang ditenggelamkan. Kemanakah kapal – kapal induk Amerika??? Sebenarnya hari itu seharusnya di Pearl Harbor ada kapal – kapal induk Amerika yang berlabuh di sana. Tetapi dimanakah mereka??? Kapal – kapal induk itu ternyata terlambat sampai ke Pearl Harbor akibat terhalang badai. Laksamana Halsey yang memimpin kapal – kapal iduk itu merasa ngeri dengan pemandangan yag ditemuinya dan sekaligus bersyukur karena mereka tertahan oleh badai. Apa yang terjadi pada mereka seandainya mereka tidak terhalang badai.
Panglima angkatan laut Amerika untuk Pasifik saat itu adalah Laksamana Kimmel. Tetapi setelah serangan, beliau merasa bersalah dan menganggap dirinya lalai dalam mengantisipasi serangan terhadap armada Amerika. Beliau pun segera menurunkan sendiri pangkatnya. Maka kedudukan beliau selanjutnya digantikan oleh Laksamana Nimitz yang nantinya akan menjadi salah satu pahlawan Amerika dalam Perang Dunia II.