Setiap hari gue naik bis umum buat bolak – balik rumah kantor. Selama ini gue banyak mendapat pengalaman menarik. Dulu pernah pas gue pulang, gue naik bis umum kelas ekonomi jurusan Senen Cikokol. Waktu itu hujan lebat. Jalan dari Harmoni ke Tomang muaceeet banget. Mana bis dalam keadaan padat, penumpang yang berdiri gencet – gencetan seperti ikan sarden aja. Karena hujan, semua jendela pun tertutup, udara di dalam benar – benar pengap. Bahkan di beberapa bagian ada atap yang bocor pula. Kalo ada yang mo tau gimana rasanya neraka dunia, mungkin keadaan ini bisa dibilang salah satu kondisi neraka dunia
. Pas di perempatan Cideng, mobil dari empat penjuru angin ga ada yang tertib dan saling mo menang sendiri. Ga ada polisi yang atur jalan!!! Sudah beberapa kali lampu hijau tapi bis tidak bisa berjalan karena jalurnya dihadang mobil dari arah yang bersilangan. Kernet turun untuk meneyetop mobil dari arah yang bersilangan tapi mobil tadi ga mo berhenti juga. Akhirnya kernet bis meminta mobil yang memotong jalan bis untuk menyingkir. Akhirnya ribut antara kernet dan supir mobil tadi tak terelakkan lagi. Supir bis turun membantu dan diikuti beberapa penumpang. Akhirnya supir mobil tadi dipaksa untuk memberikan jalan. Sopir mobil malang itu diintimidasi dan akhirnya ia dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan para awak bis yang gue naiki. Jalan terbuka, bis tancap gas dan melaju dengan kencang diikuti mobil – mobil di belakangnya. Bagaimana dengan sopir mobil yang dipaksa untuk menyingkir? Naasnya pria malang itu hanya dapat menyumpah serapah saja.
Gue kerja di daerah Pintu Air. Pernah saya untuk pulang ke Serpong ikut bis jurusan Tangerang ke Senen dahulu. Tiba – tiba ada dua orang naik dan berkata “Kami bukan pengamen atau pengemis, daripada kami berbuat jahat lebih baik kami meminta secara baik baik.” Dalam hati gue berkata “Wah, ini mah tukang palak” Ada penumpang yang memberikan ada juga yang tidak. Cuma modal tampang serem aja tapi ga maksa. Mereka berdua turun dan gue ga kena. Untunglah, kata gue. Eh ga berapa lama kemudian, pas bis ngetem di Senen dan penumpang agak sepi, naik lagi satu orang dan mengatakan kalimat yang sama persis dengan kalimat yang dikatakan oleh kedua orang tadi. Nyontek kali yeee atau ada buku panduan pemalak
. Sialnya orang ini tiba – tiba minta sama gue dan maksa. Gue bilang aja tadi gue udah kasih masa sekarang musti ngasih lagi. Di bilang ya kan tadi saya belum. Gue bilang lagi minta aja sama temennya yang naik sebelum dia, masa satu hari gue kena dua kali. Akhirnya si orang tadi pergi juga. Dalam hati gue ketawa aja, ternyata dia termakan tipuan gue
.
Pernah gue pergi agak siang ke kantor. Pas lampu merah di perempatan Harmoni tiba – tiba naik beberapa anak tanggung dan memalak penumpang. Padahal di Harmoni sendiri ada pos polisinya?! Gue pake earphone waktu itu. Ada anak yang malak gue, gue diemin aja. Jujur, gue ga takut sama anak tanggung kaya dia, kalo bapaknya yang malak gue baru lain cerita
. Selama lampu merah dia terus minta. Gue kasian juga dia ngomong gue malah pake earphone lagi, kaya cuekin tuh anak banget. Gue kasih aja Rp 200. Eh langsung pergi. Sial dalam hati gue berkata bukannya dari tadi aja kasih, cuma Rp 200 doang.
Ya itu adalah beberapa pengalaman gue maik bis umum. Untunglah selama ini gue ga pernah bertemu hal – hal yang jelek
.
Nice life story…maybe you can write some other article about your experiences. You must not write about your life, but you can also write your opinions , your ideas, or about your works
Thanx for the comment.
I will come with my other article, so don’t miss it
Pasti naiknya P25 yaaa
dan tukang palaknya sering beroperasi daerah Roxi yg macetnya amit2 yaaa
bukan!!! g naik yg ke kebon nanas, bukan karawaci
oh iya… naik P100…
kenapa gak ngekos aja pit…:D, tinggal itung2an aja deh… ongkos pulang pergi sebulan dibandingin sama biaya kos sebulan (usahakan kalo udah ngekos, jangan masih perlu ongkos kalo pulang pergi kantor)
itung aja mana yg lebih irit, itu aja yg diambil….
alternatif lain…naek kereta, lebih cepet, gak macet!
) berangkat dari stasiun serpong, turun di (stasiun kereta yg deket senen apa tuh namanya….stasiun senen?)
yaaa… lebih mahal sih kalo naek kereta yg bukan kelas kambing (ekonomi) + otomatis ikutan fear factor indonesia (selain naek pesawat
Ah udah g itung – itung tapi tetap lebih mahal krn bbg alasan.
Saya belum pernah bernasib sial. Beruntung malah, kalo nggak bisa dibilang kurang ajar.
Waktu itu kondisinya mirip seperti itu, tumplek jadi satu. Untuk beringsut pun susah nya setengah mati. Sampai-sampai penumpang protes teriak-teriak saat kondektur mau menaikkan penumpang lagi. Alhasil, penumpangnya nggak nambah, nggak berkurang…
Sementara sudah seharian kerja saya capeknya minta ampun. Dalam kondisi berdiripun sempat tertidur ayam. Dasar nasib (baik), didepan saya persis seorang karyawati yang ,(nampaknya juga tertidur), nyender di dada saya. (tinggi saya 185cm…) Cukup lama dia nyender ke dada saya karena tertidur.
Antara tega nggak tega, saya diem saja. Soalnya dia pules banget. Mana cakep pula…
Disatu sisi, saya juga “keenakan”… (tau sendiri lah, nggak usah saya perjelas, nanti dikira crita cabul…). Yang saya nggak habis ngerti, tampaknya dia tahu “something happen”, tapi dia kok cuek saja. Dia hanya menoleh ke arah saya sebentar, dan tertidur lagi. Karena sudah nanggung, “kesampaian lah” saya….
Dia turun lebih dahulu dari saya. Masih gemetar karena “sesuatu yang terindah”, dia hanya mengucap,”maaf ya mas…”.
Sungguh saya nggak tahu, ini neraka dunia, atau justru surga dunia, atau surga dan neraka campur aduk, entahlah…
Pikiran saya kosong, terkesima, dan segala perasaan nggak karuan menjadi satu…
Berbulan-bulan semenjak kejadian itu, bila didalam bus yang searah tujuan, saya selalu memperhatikan penumpang wanita, barangkali bertemu lagi dengannya, untuk sekedar berkenalan, tukar nomer ponsel, atau apalah….
Namun itu tak pernah terjadi lagi. Hingga saya akhirnya berganti alat transpor pribadi…
Salam kenal Sdr Sumantri =D,
Memang kalau naik angkutan umum kadang kala kita bertemu hal – hal yang unik yang mungkin tidak kita dapatkan ketika naik kendaraan pribadi. Pengalaman Anda memang menyenangkan, tapi bukan tidak mungkin untuk terjadi lagi. Tapi semoga Anda bisa bertemu dengannya dan iapun masih mengenali Anda =D kalau ia tidak kenal Anda lagi, yaaaaaa sebaiknya Anda memberanikan diri untuk kenalan.