Bagi masyarakat yang tinggal di kota – kota besar saat ini sering kali menemui penawaran kartu kredit. Setiap kali kita jalan ke mal pasti kita akan menemukan sebuah stand, entah dari bank apa, yang menawarkan kartu kredit. Bahkan kadang kala kita ditelepon seseorang yang menawarkan kartu kredit. Kartu Kredit mulai menjadi bagian masayarakat kota – kota besar.
Tetapi pada kenyataannya, kadang – kadang orang menjadi konsumtif dengan adanya kartu kredit. Mereka melakukan pembayaran dengan cara menggesekkan kartu dan pada saat itu uang di dompet ataupun tabungan tidak berkurang sepeserpun . Pengguna akan merasa tenang – tenang saja menggesek. Mereka tidak tahu keadaan sebenarnya dimana ketika mereka menggesekan kartu itu maka hutang mereka bertambah. Hal ini biasanya baru disadari ketika datang surat tagihan ke depan rumah.
Pihak bank memiliki andil yang besar dalam pendistribusian kartu kredit ke masyarakat. Mereka dangan gencar mempromosikan kartu kredit. Mulai dari diskon, hadiah, promosi kartu gratis dan bahkan menjadikan kartu kredit itu sebagai bagian dari gaya hidup. Orang yang memiliki banyak kartu kredit akan dianggap sebagai seorang yang bonafid. Bahkan bagi para “esmud” (eksekutif muda) ga gaul klo belum memiliki kartu kredit.
Terlepas dari hal – hal di atas, prinsip kartu kredit adalah hutang. Kartu kredit sebenarnya berguna jika kita memiliki kebutuhan mendadak yang bersifat “urgent” dan kita tidak memiliki uang yang cukup. Dengan adanya kartu kredit maka kita dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan pembayarannya pun dapat dicicil. Yang seringkali terjadi adalah orang kebablasan menggunakan kartu kredit. Inti dari semua ini adalah pengendalian diri. Biarpun hutang, tetapi jika dipakai untuk alasan yang benar maka hutang tersebut akan menjadi hutang yang produktif.
Punya kartu kredit memang sebuah beban kalau pendapatan kita belum mapan. Lain halnya dengan orang yang penghasilannya memang sudah mapan, punya kartu kredit memang memudahkan mereka dalam bertransaksi. Jadi sebelum apply kartu kredit, analisislah diri sendiri…sudah mapankah penghasilan saya?